LIGA SEPAKBOLA DI SELURUH PENJURU DUNIA TERHENTI AKIBAT VIRUS COVID 19

Dalam sebuah percakapan tongkrongan akhir pekan lalu, salah satu teman yang juga pendukung Manchester United melontarkan keluh kesahnya, “MU udah lama ga unbeaten, eh, pas lagi membaik malah liga ditunda. Mana hiburan weekend satu-satunya cuma MU”.

Teman yang lainnya menyahut tak mau kalah sedih, “Apalagi gue, udah nunggu seumur hidup lihat Liverpool juara EPL, udah mau juara malah diberhentiin liganya.”.

Terakhir, dengan penuh getir, teman lainnya yang seorang pekerja di Liga 1 mengatakan, “Lah gue, ilang deh duit gara-gara ga ada bola Indonesia.”

Ada hiburan, penantian, hingga mata pencaharian yang hilang karena satu alasan, COVID19.

Liga top Eropa resmi ditunda akibat bencana virus corona yang menyebar hampir ke seluruh pelosok bumi. Liga 1 Indonesia pun ikut terkena imbasnya dan diberhentikan untuk sementara waktu. Sempat beberapa pertandingan UCL maupun UEL diadakan tanpa penonton, namun rasanya tak efektif.

Sepakbola lahir dari ikatan emosional bersama antara klub dan penonton. Jika sepakbola tak lagi dapat dinikmati oleh para pecintanya, apa pertandingan sebelas orang lawan sebelas orang masih bisa disebut sepakbola?

Selain itu, pertandingan memang bisa berjalan tanpa penonton di dalam stadion, namun nyatanya di luar stadion, ribuan orang tetap berkumpul. Apa bedanya?

Lain halnya dari sisi pelaku hiburan sepakbola. Bagaimana pendapatan mereka, jika hanya bergantung dari pertandingan sepakbola?

Sebagai contoh, La Liga memperkirakan pada Kamis, mereka akan kehilangan 678,4 juta Euro (11 triliun Rupiah), jika musim 2019/20 berhenti sekarang, di mana 549 juta Euro (8,79 triliun Rupiah) di antaranya berasal dari pemasukan mereka dari televisi.

Namun, mengutip apa yang dikatakan Bambang Pamungkas, “Tidak ada satu pertandingan pun yang sebanding dengan nyawa”, menggambarkan bagaimana keselamatan adalah yang paling utama.

Penundaan kompetisi sepakbola memang menyedihkan, tapi percayalah semua akan kembali normal. Kita harus belajar dari bangkitnya sepakbola dari keterpurukan usai pandemic panjang bernama Flu Spanyol, seabad lalu.

Diterbitkan oleh YUDA AMARA

Hello perkenalkan nama saya Yuda Amara mahasiswa UPI YAI JAKARTA lahir di Jakarta 21 April 1998 hobi saya bermain sepak bola dan olahraga lainnya cita cita saya menjadi pemain sepak bola namun tidak kesampaian namun tak patah arang untuk hidup sehat!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai